Jumat, 16 Januari 2009

Tao yang Terselip


Mulanya hanya ingin berdiskusi tentang sebuah puisi yang baru saja selesai saya buat. Jadi kami nongkrong di tempat nongkrong sejuta umat kampus Fakultas Bahasa, Kafe Jerman! Kafe kecil yang murah meriah (gak pake mencret) ini memang lumayan asik buat nongkrong. Letaknya pas di pinggir jalan tempat lalu-lalang para mahasiswa keluar masuk kampus. Lumayan buat cuci mata.
Tapi kami memilih duduk di bagian dalam, supaya lebih tenang. Mr. Pang, junior satu tingkat di bawah saya mulai membaca. Sengaja saya panggil dia untuk mengkomentari tulisan saya, karena secara (cieee...istilahnya!) dia rajin ikut kajian-kajian, baik sosial maupun sastra. Beda dengan saya yang selalu cari-cari alasan dan lari kalau ada yang panggil kajian. Bukan karena apa, saya hanya merasa kurang nyaman dengan gaya pembahasan yang terlalu dogmatis dan pedagogi, di sebagian besar forum-forum kajian.
Selesai baca, Mr. Pang mulai berkomentar, sambil mengernyitkan dahinya. "Ini bukan sosialis, bukan juga feminis, bukan juga strukturalis, karena rimanya tidak beraturan." Dalam hati saya membatin, "Rimanya bukan tidak beraturan, tapi berantakan, hehe!" Akhirnya Mr. Pang berkesimpulan, kalau puisi ini masuk black literary. Golongan yang tak bergolongan.
Lantas, entah bagaimana percakapan kami membawa dia untuk menjelaskan tentang warna hitam dan putih.
"Ada berapa warna di dunia ini, kak?" dia bertanya.
Saya menggeleng, "Nggak tau!"
Dasar orang yang nggak mau susah! Saya menggerutu sendiri dalam hati.
"Di dunia ini hanya ada dua warna hitam dan putih," dia mulai menerangkan. "Putih adalah sumber dari bermacam-macam warna, merah, kuning, hijau, ungu."
"Tapi, hitam mematikan semua warna. Coba bayangkan kalau mati lampu, gelap kan? Hitam, nggak kelihatan apa-apa, nggak ada lagi warna, kan? Tapi, coba kita pikirkan lagi, apa yang bisa mengusir kegelapan? Cahaya. Jika kegelapan diasosiasikan dengan hitam, maka cahaya diasosiasikan dengan putih. Di mana ada cahaya, maka akan ada bayangan. Jika ada putih maka selalu ada hitam yang membayangi. Begitu pula sebaliknya."
"Tao..." Saya mendesis padanya sambil manggut-manggut, nurut dengan penjelasannya.
Kesimpulan singkat: puisi saya tidak jelas masuk aliran mana (kayak orangnya, tidak jelas!).
Sisanya, kita memiliki kesimpulan masing-masing. Sebanyak warna yang bisa dihasilkan oleh warna putih, yang akan selalu menemani hitam.

Rabu, 07 Januari 2009

Senandung Pada Langit


Senandung pada langit.
Berjuta air mata pun bangkit.
Menandingi gelap
dalam selimut subuh.
Berlindung atap
manusia tetap rapuh.

Taman-taman itu masih jauh.
Masih terlalu jauh.
Masih kuatkah diri ini mengayuh?
Meski telah berkeringat jenuh
dan menangisi peluh.
Bayang-bayang telah lusuh
namun tetap di sisi dalam patuh.
Hanya lilin-lilin menemani
alunan senyap dalam sunyi.
Rindu ingin kembali.

Suatu hari,

kuharap senandung ini akan dijawab.

Published: Fajar, Minggu 4 Januari 2009

Selasa, 06 Januari 2009

Adalah Sebuah Awal

Mungkin benar begitu. Karena ini adalah blog perdana bagi saya. Jadi mungkin secara teknis, ini adalah sebuah awal. Meskipun kegiatan tulis menulis sudah (atau lebih tepatnya--baru) saya lakoni sejak tiga tahun yang lalu.
Pertama kalinya jatuh cinta pada dunia sastra--dunia tulis menulis, adalah karena baca buku Supernova:Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (S:KPBJ). Dunia sastra yang dulunya cengeng dan mendayu-dayu bagi saya seketika itu pula berubah (tapi bukan jadi Ksatria Baja Hitam atau Sailormoon). Mata saya terbuka. Ternyata sastra adalah sesuatu yang menarik dan tangguh. Saya pun menjadi penggemar sastra. Dan tiga tahun lalu saya mulai menulis, meski hanya untuk diri sendiri dan sahabat-sahabat terdekat.
Hingga akhirnya, beberapa hari yang lalu saya mengirimkan puisi saya pada media cetak lokal. Dan dimuat. Saya jadi percaya diri, sekaligus sadar. Bahwa pemuatan karya tersebut barulah sebuah awal dan bukanlah sebuah kepuasan.
Mudah-mudahan blog ini bisa menjadi ajang latihan bagi saya untuk mengasah kemapuan menulis agar menjadi lebih baik lagi.
Atau mungkin hanya sekadar berbagi.