Rabu, 18 Februari 2009

Mataku yang Basah


"Ketika kamu melihat mata kering, ketahuilah kekeringan itu adalah tanda hati yang keras. Maka beruntunglah orang yang senantiasa menangis. Karena ia mengakui kelemahannya di hadapan Tuhan."
(S. M. Syahata)


Kata-kata di atas dikirimkan via sms oleh seorang adik, yang katanya, teringat pada saya ketika membaca sebuah buku dan menemukan kutipan di atas tersebut.
Mungkin, untuk orang-orang yang belum begitu memahami saya, akan merasa aneh jika mendengar hal ini:
saya mungkin adalah orang yang paling sering menangis. Percaya atau tidak, saya menangis hampir setiap malam. Kenapa? Sepelik itukah hidupku? Tidak! Hidupku biasa saja. Sama seperti orang lain. Terkadang sulit, terkadang pula baik-baik saja. Hanya saja, saya memang butuh menangis. Buat saya, menangis itu seperti aliran air mata yang membawa pergi gundukan lumpur di dasar hati, dalam bentuk molekuk-molekul garam. Lumpur hati itu bisa apa saja, bisa masalah besar, kecil, atau justru kebahagiaan. Yang saya tahu hanyalah saya merasa lega setelah menangis. Bahkan ketika tidak terjadi apa-apa hari itu.
Lebih daripada itu, buat saya menangis mempunyai makna yang lain. Lebih dari sekedar ekspresi. Lebih dari sekedar pelampiasan emosi. Menangis bukan berarti cengeng. Banyak orang yang hampir tidak pernah menangis dalam hidupnya, tapi selalu mengeluh. Mengeluh, kenapa hidupku seperti ini. Seolah-olah mereka adalah orang paling menderita di atas dunia ini. Orang-orang inilah yang sesungguhnya cengeng, tanpa perlu mengeluarkan setitik air mata pun. Tak perlu menangis untuk menjadi orang cengeng. Cukup mengeluh, menyerah, dan berhenti berjuang. Berhentilah HIDUP. Hidup, yang benar-benar HIDUP. Maka kamu telah jadi orang cengeng.
Menangis adalah ungkapan pengakuan dan rasa syukur. Kita hadir di dunia ini dengan judul "manusia". Dan hakikatnya, manusia memiliki rasa--saya tidak berbicara tentang rasa cinta, tapi rasa secara umum yang dianugerahkan Tuhan untuk kita. Rasa itulah yang menjadikan kita manusia, bukan malaikat, bukan binatang, bukan pula benda mati. Menyadari sepenuhnya itu ada di dalam kita, berarti kita tidak perlu melakukan penyangkalan. Penyangkalan atas rasa tersebut, hanya karena takut dikatakan lemah. Kalau lemah, lantas kenapa?! Sombong sekali kita, manusia, tidak ingin dikatakan lemah. Bukankah kita memang makhluk lemah, sampai-sampai Tuhan pun harus menundukkan gunung-gunung dan binatang-binatang (alam semesta) agar manusia dapat hidup di dalamnya?!
Tanpa kata-kata, cukup dengan menangis, secara tidak langsung kita pun berujar, "Tuhan, aku adalah manusia."
Tanpa kata-kata, cukup dengan menangis, secara tidak langsung kita pun berujar, "Tuhan, aku adalah lemah."
Dan mengakui bahwa kita adalah manusia. Benar-benar adalah manusia. Manusia seutuhnya. Adalah bentuk kesyukuran pada Tuhan. Kesyukuran karena kita telah tercipta sebagai manusia. Sahaya-Nya. Khalifah-Nya. Kesyukuran tanpa perlu bersujud. Kesyukuran tanpa perlu berucap. Kesyukuran tanpa perlu menengadahkan kedua telapak tangan. Dan bagi saya, terkadang kesyukuran tidak perlu diekspresikan dengan bersujud, berucap, dan menengadahkan kedua telapak tangan.
Terkadang, cukup dengan menangis. Cukup dengan menangis...

Sabtu, 07 Februari 2009

Saya Ingin Mendesah


Saya ingin mendesah...mendesah...


Mendesah. Apa yang muncul di kepala kita ketika mendengar kata itu. Secara umum, mungkin, akan terbayang suara napas perempuan yang merdu dan menggemaskan. Boleh juga ditambahkan visualisasi, bayangan tentang wajah cantik seorang perempuan, sedikit mendongak di atas bantal dengan rambutnya yang terurai, mata terpejam, bibir sediki terbuka, mengeluarkan napas yang mampu melambungkan ego laki-laki yang mendengarkan.

Ketika seorang perempuan di atas ranjang mendesah, maka nafsu dan ego pasangan prianya pun melambung. Desahan menimbulkan sensasi libido bagi pria. Desahan juga menandakan si wanita merasakan kenikmatan di atas ranjang. Dan itu merupakan simbol kekuatan sensualitas laki-laki, yang pada akhirnya mendongkrak harga diri si laki-laki secara drastis.

Nasib perempuan, tidak jauh berbeda dengan nasib asosiasi atau pencitraan kata “mendesah”. Sering menjadi objek kesalahpahaman. Karena kountur budaya, perempuan, yang seharusnya menjadi pasangan kaum laki-laki, terpelintir menjadi objek taklukan kaum Adam. Layaknya singa liar yang dikejar hingga ke ujung Afrika. Karena kepalanya hendak dipenggal, kemudian dibawa pulang, dan dipamerkan di depan teman-temannya untuk gagah-gagahan.

Saya ingin mendesah. Mendesah. Tapi bukan karena orgasme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendesah berarti membuang napas panjang untuk mengenyahkan kekesalan. Makanya saya ingin mendesah. Saya ingin mendesah untuk membuang kekesalan ini. Kesal, karena, betapa kountur budaya, masyarakat, dan kaum laki-laki begitu tidak adil pada kaum perempuan. Kesal, karena, feminisme dan emansipasi disalah-artikan. Kesal, karena, di tengah kemajuan ini, nasib perempuan masih saja miris. Kesal, karena, modernitas yang seharusnya menjadi celah bagi perbaikan nasib perempuan, justru malah semakin mengeksploiasi baik secara fisik, mental, apalagi seksual.

Maka dari itu, saya ingin mendesah. Apalagi, kalau melihat kenyataan bahwa hanya sedikit orang—khususnya perempuan—yang menyadari semua masalah itu. Terlebih sedikit lagi yang mampu melakukan sesuatu. Dan hampir tidak ada, yang berhasil mengubahnya.

Makanya saya ingin mendesah. Tapi bukan karena orgasme.