
Saya ingin mendesah...mendesah...
Mendesah. Apa yang muncul di kepala kita ketika mendengar kata itu. Secara umum, mungkin, akan terbayang suara napas perempuan yang merdu dan menggemaskan. Boleh juga ditambahkan visualisasi, bayangan tentang wajah cantik seorang perempuan, sedikit mendongak di atas bantal dengan rambutnya yang terurai, mata terpejam, bibir sediki terbuka, mengeluarkan napas yang mampu melambungkan ego laki-laki yang mendengarkan.
Ketika seorang perempuan di atas ranjang mendesah, maka nafsu dan ego pasangan prianya pun melambung. Desahan menimbulkan sensasi libido bagi pria. Desahan juga menandakan si wanita merasakan kenikmatan di atas ranjang. Dan itu merupakan simbol kekuatan sensualitas laki-laki, yang pada akhirnya mendongkrak harga diri si laki-laki secara drastis.
Nasib perempuan, tidak jauh berbeda dengan nasib asosiasi atau pencitraan kata “mendesah”. Sering menjadi objek kesalahpahaman. Karena kountur budaya, perempuan, yang seharusnya menjadi pasangan kaum laki-laki, terpelintir menjadi objek taklukan kaum Adam. Layaknya singa liar yang dikejar hingga ke ujung Afrika. Karena kepalanya hendak dipenggal, kemudian dibawa pulang, dan dipamerkan di depan teman-temannya untuk gagah-gagahan.
Saya ingin mendesah. Mendesah. Tapi bukan karena orgasme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mendesah berarti membuang napas panjang untuk mengenyahkan kekesalan. Makanya saya ingin mendesah. Saya ingin mendesah untuk membuang kekesalan ini. Kesal, karena, betapa kountur budaya, masyarakat, dan kaum laki-laki begitu tidak adil pada kaum perempuan. Kesal, karena, feminisme dan emansipasi disalah-artikan. Kesal, karena, di tengah kemajuan ini, nasib perempuan masih saja miris. Kesal, karena, modernitas yang seharusnya menjadi celah bagi perbaikan nasib perempuan, justru malah semakin mengeksploiasi baik secara fisik, mental, apalagi seksual.
Maka dari itu, saya ingin mendesah. Apalagi, kalau melihat kenyataan bahwa hanya sedikit orang—khususnya perempuan—yang menyadari semua masalah itu. Terlebih sedikit lagi yang mampu melakukan sesuatu. Dan hampir tidak ada, yang berhasil mengubahnya.
Makanya saya ingin mendesah. Tapi bukan karena orgasme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar