Ratusan permata
dalam kelamnya beludru tirai malam
menjadi tawar,
hambar,
hanya ada pudar.
Kala cahaya rasa berpendar
maka lidah akal pikiran pun tersadar.
Menjilati pahitnya nalar
bahwa realitas bisa kasar.
Ia cabik yakinku.
Ia bunuh mimpimu.
Lantas,
akankah kita bertahan
tanpa keyakinan dan impian?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Kita bisa bertahan justru karena ada tujuan maka luruskan niat dan lakukan apa yang patut, insyaallah semua akan survive
BalasHapusYah, apa yg kita lihat dalam cahaya tampak adalah illusi belaka...
BalasHapusTampak jelas dalam cahaya rasa..
Nice poem, salam kenal ya..
@anny77:sa udh prnh buka blognya...nice blog...
BalasHapus@srex aswinto:maaf y wktu walking blog k blogny sa g smpt tinggalkn comment.slm knl jg y...